Terimakasih sudah mengenalkanku pada iga yang walupun
berisik namun tetap beirisi, mas nanda dan mbak rara yang sampai mereka
berpisah kita tak sempat melihatnya bersama, mas eki dan mas kharis dengan
kecerdasan mereka, bang cholil dan adrian yang selalu mampu menciptakan pasarnya sendiri.
Terimakasih karna membuatku mengerti bahwa menurut sapardi
mencintai hanyalah sesederhana kata yang
tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Terimakasih karena sekarang aku paham bahwa persis seperti
yang dikatakan Aan Mansyur jika mantan
kekasih persis seperti utang, kita tidak pernah betul-betul melupakannaya. Kita
hanya selalu pura-pura melupakannya
Terimakasih karna sudah mengajakku bertamasya ke laut
bertiga dengan hujan, karna sejak itu aku yakin bahwa langit soreku tak akan
lagi sama.
Terimakasih karna telah mengajariku untuk berjuang, dan
menyadarkanku bahwa terkadang kita harus mampu menjadi pehlawan untuk diri kita
sendiri
Terimakasih karna selalu mengajaku melihat band-bandan yang notabennya hanya
penampilan orang-orang yang menyerukan pemikiran mereka dengan cara yang
berbeda
Terimakasih karena sering menemaniku makan di kaki lima
bersama dengan malam dan bising jalanan
Terimakasih karna selalu melipat jarak hanya untuk sekedar
saling membunuh waktu bersama
Terimakasih karna sudah mengenalkanku pada ibumu
Dan kini, sampaikan salamku untuknya